Fila Amank Farm: July 2015 ca-app-pub-4836435869284757/4320646519

Iklan javascript

Friday, July 10, 2015

Pengalaman Budidaya lele sistem red water sistem (RWS) agar tahan penyakit

Budidaya ikan lele red water sistem / rws.

Kalau menyebut nama lele, pasti anda semua tau, yups benar sekali, ikan berkumis yang kaya protein. Lele merupakan makanan yang cukup populer di Indonesia. Ingat saja Warung lamongan, pasti ada menu lele, pecel lele, pecak lele, lele sambal goreng bahkan kini sudah banyak jenis olahan dari ikan lele semisal abon lele, krupuk lele, bakso ikan lele dan lain-lain.

ya! itu semua kelebihan lele, namun banyak juga orang yang tidak menyukai ikan yang satu ini sebagai ikan yang menakutkan, menjijikan dan banyak juga yang mengatakan lele itu bau lumpur.

Lele bau lumpur? memang sebagian ada yang bau tanah/lumpur , ini dikarenakan tehnik budidaya yang dilakukan oleh petani.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi tehnik budidaya lele pun semakin berkembang. Salah satu tehnik yang akan saya paparkan di sini adalah Sistem RWS atau sering disebut air merah.

Apa sih Sistem RWS? RWS merupakan singkatan dari Red Water System. Tehnik ini berbeda sama sekali dengan sistem konvensional yang kebanyakan menggunakan pakan bangkai ayam atau sistem tumpangsari dengan kandang ayam.
Sedangkan RWS menggunakan bakteri baik untuk memacu pertumbuhan maupun tingkat kehidupan lele itu sendiri dan yang utama adalah Ikan Lele Yang Dihasilkan TIDAK Bau Lumpur, daging lebih padat dan kalau diambil jeroannya lebih bersih (empedu berwarna kuning).
pembudidaya yang menggunakan sistem ini biasanya menebar benih dalam jumlah banyak di lahan yang sempit (1000 ekor/m)


Pengalaman saya menggunakan sistem RWS
1. Bahan yang diperlukan
a. Gedepok pisang 1kg
b. air leri/cucian beras 5 liter
c. air kelapa 5 liter
d. 1 buah nanas
e. pisang 1
f. jeroan ikan nila
g. terasi 1/4
h. gula merah 1/4
i. bekatul 1 ons
j. ragi tape 3 butir
k. ragi tempe 1 sdm
l. em4 2 tutup botol

bahan2 di atas untuk difermentasi yang kemudian diaplikasikan ke kolam maupun pakan

cara membuat.

gula merah, jeroan ikan, terasi, bekatul, gedebok, nanas, pisang diparut, ambil airnya saja dan saring
setelah semuanya cair, campurkan semua bahan dan tambahkan air matang sampai 20 liter, kemudian tambahkan ragi tape dan tempe yang sudah dicairkan. masukkan ke dalam wadah (yang dapat di tutup rapat) tunggu minimal 7 hari. setelah 7 hari buka tutupnya, apabila berbau kecut/tape itu tandanya fermentasi berhasi. apabila bau busuk berarti gagal.

2.Persiapan media
pengalaman saya, untuk kolam ukuran 1x2x1

beri air setinggi 30 cm, kemudian masukkan fermentasi tersebut sebanyak 150 ml/meter. tambahkan gula merah cair 2 ons. tunggu hingga minimal 3 hari. hari keempat tambahkan air hingga 1 m,  dan tambahkan fermentasi tadi separoh dari takaran awal. tunggu hingga 7 hari.

2. tebar benih
pada hari ketujuh sore harinya siap masukkan benih ikan.

3. pemberian pakan
jangan kasih makan pada hari pertama, hari kedua berikan pakan sedikit saja. hari ketiga pemberian pakan normal yaitu 5% dari total bobot ikan.

pemberian pakan mengikuti perkembangan lele, yang perlu diingat, hentikan pemberian pakan sebelum kenyang.

yang harus diingat! bibis pakan terlebih dahulu dengan fermentasi tersebut. 1 tutup botol mineral untuk 1 kg pakan




4. perlakuan rutin
seminggu(situasional) sekali berikan fermentasi 100 ml/m

5. penanganan/pencegahan masalah.
yah! ikan itu hidup dan tidak ada yang tau kapan sakit, yang perlu dilakukan agar tidak sakit.

saat cuaca tidak menentu, setelah hujan lebat, pergantian air (pergantian air cukup 20% saja tiap 2 minggu) berikan fermantasi dan kapur mill/dolomit 150  gr/m

apabila ikan terlihat tidak lincah, berikan fermentasi dan  dolomit dan puasakan 1 hari.


awal dari sistem ini, air berwarna hijau, kemudian mengarah coklat, dan menjadi merah. pada saat air berwarna coklat, kurangi pakan. karena spada saati inilah kecermatan anda diuji dan kemungkinan terkena masalah lebih besar.

satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah sistem, apabila anda berada di perkampungan padat penduduk, lahan sempit sistem RWS ini sangat cocok karena tidak menimbulkan bau seperti pada budidaya lele konvensional.
Tingkat kepadatan juga harus diperhatikan, apabila anda mempunyai lahan luas, gunakan sistem RWS dengan padat rendah saja, karena waktu panen juga akan lebih singkat

ini adalah hasil kolam saya dengan RWS

Selamat mencoba, semoga berkah

Total Pageviews

Komentar

Tulis disini

Translate